Rabu, 17 Desember 2025

Menyemai Moderasi, Memanen Prestasi: Catatan Visitasi SDN Jenang 02 Menuju Sekolah Sinergi 2025

Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu di dalam ruang kelas. Ia adalah proses memanusiakan manusia, menanamkan karakter, dan membangun pondasi budaya yang kuat dalam sanubari anak. Sebagai pengawas, saya merasa bangga sekaligus terinspirasi saat mendampingi salah satu sekolah dampingan saya, SDN Jenang 02, yang sudah melaju ke tahapan visitasi dalam ajang Lomba Sekolah Sinergi 2025 tingkat Kabupaten Cilacap.

Setelah berhasil meraih nilai tertinggi pada tahap penilaian naskah best practice dan video, visitasi menjadi momen bagi tim penilai dari Kemenag untuk melihat langsung bagaimana harmoni keberagaman itu benar-benar "hidup" di sekolah ini.

Strategi ‘Gelang Emas’: Inovasi di Tengah Keragaman

SDN Jenang 02 adalah replika kecil dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan populasi siswa yang heterogen (83% Islam, 10,5% Kristen, dan 6,5% Katolik), sekolah ini menghadapi tantangan nyata dalam menjaga kohesi sosial dan membendung potensi intoleransi.

Jawaban atas tantangan tersebut adalah strategi ‘Gelang Emas’—akronim dari Gerakan Latihan Pembiasaan Keagamaan, Ekstrakurikuler, Minat Bakat, Aktif, dan Santun. Strategi ini bukan sekadar program di atas kertas, melainkan ekosistem yang dirancang untuk memperkuat moderasi beragama melalui tindakan nyata:

  • Gerakan Latihan Pembiasaan: Di sini, toleransi dipraktikkan, bukan hanya diteorikan. Siswa Muslim dibimbing melalui model Sorogan dan Klasikal di Mushola, sementara siswa non-Muslim mendapatkan ruang yang sama nyamannya di Ruang Bina Rohani/Kajian Al-Kitab.

  • Aktif dan Santun: Setiap pagi, sekolah dipenuhi dengan budaya bersalaman dan salam yang inklusif. Bahkan dalam hal sederhana seperti makan dan berdoa sebelum pulang, sekolah memberikan ruang bagi setiap siswa untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing dalam suasana yang hening dan saling hormat.

  • Minat Bakat yang Berbuah Prestasi: Strategi ini terbukti efektif meningkatkan kualitas kompetensi siswa. SDN Jenang 02 berhasil menyabet gelar Juara Umum MAPSI Kecamatan Majenang selama tiga tahun berturut-turut (2023–2025) dan mengirimkan banyak juara di tingkat Kabupaten Cilacap.



Lingkungan yang Inklusif: "Diwongke" dalam Keberagaman

Salah satu poin yang paling menyentuh dari visitasi ini adalah dimensi psikologis yang dibangun sekolah. Orang tua siswa non-Muslim merasa sangat dihargai atau dalam istilah Jawa disebut "diwongke" karena anak-anak mereka mendapatkan fasilitas ibadah yang setara dan terpisah (Mushola, Ruang Kristen, dan Ruang Katolik).

Visitasi ini bukan sekadar penilaian kompetisi, melainkan pembuktian bahwa moderasi beragama dapat menjadi budaya sekolah yang nyata dan berdampak positif bagi seluruh warga sekolah. Melalui strategi "Gelang Emas", SDN Jenang 02 berhasil mengubah keragaman menjadi kekuatan, memastikan setiap anak merasa aman untuk berekspresi dan bertumbuh.

Sebagai pengawas, saya berharap praktik baik (best practice) dari tim SDN Jenang 02 dengan kepala sekolah Bunda Sumarni, S.Pd. dan guru PAI Bapak Yusuf Rifangi, M.Pd.  ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Cilacap. Mari kita terus kawal agar sekolah-sekolah negeri kita benar-benar menjadi wadah "Sinergi"—Sekolah Negeri Bernuansa Religi yang ramah, moderat, dan berprestasi.

Terimakasih SDN Jenang 02 sudah berjuang hingga tahap visitasi! Semoga hasil terbaik senantiasa menyertai.


Oleh: Dwi Wahyuning Aisyah (Pengawas SD Dabin 3 Korwil Kecamatan Majenang Dindikbud Kabupaten Cilacap), 18 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Transformasi PKKS 2025: Menguatkan Peran Guru sebagai Jantung Kinerja Kepala Sekolah

Bukan Sekadar Seremonial   Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) tahun 2025 bukan lagi sekadar ajang tumpukan dokumen administratif di mej...